Pendakian Bukit Lunggi, 2020
Pendakian Bukit Lunggi, 2020
Hanya mengenang cerita pendakian perjalanan yang gokil ini, saya tulis karena daripada nganggur biar berguna juga ijazah s1 Pengangguran.
Waktu itu tahun 2020, tahun covid-19 yang berusaha mengurung saya putuskan untuk tidak di kendalikan oleh kefanaan ini di planet ini. Dimana pekerja di PHK, pedagang sunyi, cari pekerjaan semakin sulit, orang dalam bertambah korup, keuntungan sepihak yang begitu menindas sesama.
Saya merasa muak dengan diri sendiri yang hanya bisa melihat dan mendengar berita yang sangat konyol di televisi. Keluar dari rumah mengumpulkan teman-teman lewat whatsapp lalu saya ajak untuk mendaki yang sering di sebut "Gunung Lunggi" Oleh masyarakat desa sekitar.
Awalnya hanya 3-4 orang yang positif mau ikut mendaki dalam perjalanan ini. Parhan, Rossijrx, tak ketinggalan juga teman lama waktu SMP, Bule Gamprit, serta irpan yang punya alat tenda. Kami memutuskan untuk berangkat sore pukul 16.00 waktu Indonesia barat. Tapi setelah teman yang lain mengetahui kami mau mendaki ada yang mau ikut dalam perjalanan ini. Robi, Ulin, tim dadakan.
Kami menyiapkan alat seadanya, tim dadakan mengambil kopi, mie instan dari rumah masing-masing. Waktu berlalu begitu cepat terdengar adzan maghrib ahirnya kami putuskan berangkat sehabis ba'da isya. Satu lagi Dani seingat saya, maklum udah lupa layaknya manusia biasa. Ikut tim dadakan ahirnya mulur kami berangkat jam 9 malam.
Lokasi kaki bukit sebrang desa kami, melewati dua sungai yang berbeda. Perjalanan di mulai dengan semangat dan penuh tawa bercanda teman-teman. 8 orang kami menyusuri jalan-jalan yang gelap pinggiran desa. Melewati sawah, kebun, menyebrangi sungai, penuh dengan rasa misteri irpan selalu mencoba mengagget-ngaggeti kami, padahal irpan lah yang sebenernya paling cemen dalam perjalanan ini.
Setelah melewati jalan yang semak belukar ahirnya kami menapakkan kaki pada jalan beraspal, tibalah kami di Desa Pelakaran, desa dekat kaki Gunung. Sebelum kami memasuki yang penuh pohon itu, kami sedikit berbincang dengan warga Pelakaran. "Hati-hati jangan seenaknya nanti di atas" Begitulah kiranya pesan dari orang itu.
Perjalanan kembali di mulai, hampir 2 jam untuk sampai di Desa Pelakaran dari desa kami, maklum kami jalan kaki seandainya pakai kendaraan mungkin hanya 30menit saja.
Perjalanan seperti yang di inginkan kami berjalan dengan tenang, tibalah kami di persimpangan. Dimana kami ahirnya mengambil jalan ke ke kiri yang ahirnya kami sampai di puncak yang salah. Karena puncak Lunggu harusnya ke kanan. Dimana kami melalui jalan yang sangat tak terlihat jalan setapak lagi, mau kembali turun pun kembali di titik yang sama, kami merasa hanya perputaran-putar tak menemukan jalan keluar yang sebelumnya kami lewati, malam semakin mencekam, keadaan pun semakin mistis, pikiran serta angan teman-teman sudah negatif. Ahirnya kami memutuskan untuk istirahat, bikin tenda, merobohkan semak-semak biar bisa berdiri tenda untuk merebahkan badan kami.
Sebelum kami semua tertidur kami makan bersama menyantap mie dan menikmati kopi. Kami tidak sampai di Gunung Lunggi, karena kami merasa telah di putar-putar dalam perjalanan itu, kami merasa tidak boleh menapaki kaki di puncak Gunung, kami hanya sampai di sebelah puncak Gunung Lunggi.
Iya begitulah kiranya cerita orang menganggur di negeri ini.

Komentar
Posting Komentar