Via Jurangmangu, 2016
2016 waktu saya SMA kelas 2 di kemping tepatnya SMAN 1 MOGA saya di ajak mendaki gunung slamet oleh kaka kelas yang bernama Odi bersama teman-temannya.
Dalam pendakian itu adalah momen pendakian saya pertama kali. Banyak sekali pelajaran yang saya ambil karena waktu itu jurangmangu adalah jalur yang belum resmi, yang mengharuskan kami membawa golog untuk membuka jalan.
Sekitar 20an orang mungkin dalam pendakian itu, karena bukan hanya 1 grup jadi saya tidak paham betul ditambah saya hanya ikut bersama grup teman saya.
Sedikit cerita dalam perjalanan pendakian ini.
Waktu itu dengan alat yang sangat seadanya bahkan saya juga memakai sepatu futsal Adidas yang biasa saya pakai untuk futsal, jangan ketawa dong hm,.
Jaket biru langit lengan warna putih itu sampai di puncak.
Perjalanan di kaki gunung.
Dengan alat bermodal apa adanya saya di jemput oleh teman saya bernama Dail, teman sebangku saya di kelas menuju ke rumah bos Aodi (kaka kelas dengan gaya ketua osis nya). Setelah sampai di rumah Odi kami membereskan peralatan yang harus masuk di tas ransel, setelah selesai kami berangkat menuju ke Jurangmangu naik mobil coak (pick-up).
Tibalah kami di Desa Jurangmangu, berkumpul di salah satu rumah warga ternyata banyak yang ingin ikut dalam pendakian itu, makanya saya tidak terlalu ingat ada berapa orang, ahirnya kami memutuskan sehabis duhur ingatan saya memulai memasuki kaki gunung setelah kami selesai membaca do'a bersama-sama.
Odi,ro'up,dail,saya sendiri di belakang dalam perjalanan itu sementara teman yang lain ada alip yang mantan satu kelas saya, hakiki kaka kelas ada juga teman-teman yang lain di depan. Kami berempat tertinggal lumayan jauh sebenarnya momen ini yang ingin saya ceritakan.
Pertama memasuki kaki gunung kami bertiga Odi,Dail dan saya memang di belakang, tapi setelah di pertengahan jalan ternyata teman Odi ada yang kelelahan sebelum pos 1, ya kita namain saja pos 1 karena memang belum jelas belum ada pos. Memang sedikit lama kami beristirahat menunggu ro'up siap melanjutkan perjalanan nya.
Sedikit kami berjalan Odi bilang break. Sempat Odi menanyakan kalau mau turun kami ikut turun kepada ro'up,tapi entah kenapa ro'up selalu menolak kami juga memaklumi dengan badan yang lumayan gemuk ingin ke puncak slamet. Ahirnya kamu berjalan lambat sedikit berjalan selalu ada kata break, kadang kami tertawa bersama, ahirnya kata itu menjadi senjata bagi kami untuk menjadikan semangat kami. Ada momen di mana kami baru saja melangkah 4 langkah Dail bilang break, kami semua berjalan sambil tertawa bersama.
Perlahan waktu molai sore kami tertinggal jauh dalam rombongan, rombongan menunggu cukup lama setelah kami saling bertemu tanah yang lumayan rata dan hari molai gelap, masih jauh dari perbatasan wadas kami melanjutkan perjalanan bersama setelah kami sedikit makan, roup kembali ke depan kami bertiga tetap di belakang.
Perjalanan Gelapnya malam.
Hanya beberapa senter ada yang memakai flash hp waktu itu seingat saya, kami berjalan dengan pelan di ingin suara-suara alam yang syahdu tentunya.
Kami sedikit kesusahan jika ada trek yang harus melompat atau melewati akar-akar yang cukup bahaya tentunya.
Dingin mulai meraba badan saya, perlahan tetap melangkah. Sedikit break kami mengeluarkan sarung untuk menghangatkan badan tidak ketinggalan sedikit ngemut gula jawa dan madu. Kembali melanjutkan perjalanan untuk bergabung dengan rombongan lainya, tepat jam 11an malam kami memutuskan untuk menancapkan pasak pada tenda kami. Menyalakan api untuk memasak mie yang tanpa cempal itu, kamu tau cempal? Haha,..
Tanpa rasa panas kami lahap memakan mie.
Sebelum tidur kami memutuskan jam untuk summit besok pagi.
Summit Gunung Slamet Via Jurangmangu
Sekitar jam 3pagi mempersiapkan keperluan untuk menaklukkan bebatuan itu.
Pukul 4 pagi kami perlahan melanjutkan perjalanan, seperti biasa teman-teman melangkah lebih cepat kedepan sementara kami bertiga selalu memilih di belakang. Langit mulai menampakkan sedikit biru matahari memulai menampakkan cahayanya. Perlahan kami melangkah di pertengahan kami bertiga bertemu ro'up kembali yang sedang merebahkan badan gemuknya. Perjalanan melambat kembali menemani ro'up yang semangat tanpa padam.
Dengan sarung yang menutupi leher saya dari silir-silir angin, saya melangkah di barisan belakang sesekali di barisan ke tiga.
Break kata itu kembali terdengar kami selalu tertawa. Perjalanan penuh dengan guyunan.
Setelah melewati batu-batu wadasan ahirnya kami semua bertemu di puncak Gunung Slamet.
Ada yang melanjutkan tidur ada yang sedang berfoto-foto kami mengibarkan bendera merah putih.
Setelah kami menikmati di puncak Gunung Slamet sambil mengobrol tentang keindahan kami memutuskan untuk turun.
Untuk kembali membereskan alat-alat tenda kami, makan duduk santai sedikit cerita kami melanjutkan perjalanan turun.
Lari adalah cara kami untuk keluar dari hutan bersama pohon-pohon besarnya. Sesekali kami beristirahat dan mengobrol tentang jalan yang kami lalui semalam dengan sedikit tidak percaya ternyata jalanan terlalu curam.
Perjalanan Turun.
Batu,akar pohon, jurang itu adalah jalan yang kami lalui sejak awal kami naik sampai kami kembali turun.
Sayang sekali semua potret telah hilang, entah siapa yang masih punya saya tidak mengerti, karena kami semua sudah berjalan di jalanya masing-masing. Semoga kalian sehat waras bergas jasmani dan rohani sehat-sehat hidupnya. Aamiin,..
Semoga bisa bertemu kembali dengan keadaan yang sama-sama sehat. Aamiin,..
Potret di atas adalah potret yang saya ambil di Facebook sebelum hapus akun Facebook saya.
Kata-kata yang masih ingat di ingatan saya adalah jadilah yang terbaik, waktu saya membuang secuil sampah di semak-semak yang ahirnya saya pungut kembali, yang mengucapkan kata kata itu Odi, bersama lagu nya momonon - semangat oke.
Odi entah dimana dia sekarang setelah lulus lebih dulu kami tidak pernah perjumpa kembali. Sesekali berkomunikasi di media belum sampai berjumpa sudah hilang kabar lagi.
Yang masih sering bertemu hanya seorang Dail yang sering ke rumah saya.
.
.

Komentar
Posting Komentar