Via Dipajaya Basecamp, 2021
Setelah mendaki Gunung Lunggi 2020, Cerita Kenangan Rosiijrx, parhan, ingin mendaki Gunung Slamet mengajak saya yang hanya bermodal jiwa dan raga serta mental yang sehat.
2021,17 Agustus kami kembali merencanakan untuk mendaki Gunung Slamet. Saya mengajak teman Vespa yang sekarang entah di mana Vespanya. Ugie namanya. Awal Agustus kami berempat setuju untuk mendaki Gunung Slamet tepat tanggal, 16 Agustus 2021. Parhan, Rosiijrx, Ugie, menyiapkan yang harus di siapkan, sementara saya menyiapkan mental karena hanya saya pernah mendaki Gunung Slamet waktu itu Via Jurangmangu Basecamp, 2016. Kali ini kami memilih Basecamp Dipajaya hari-hari kami menunggu tanggal 16 Agustus 2021 untuk perjalanan segera di mulai.
Tibalah waktunya, tanggal 15 malam berkumpul di rumah saya. Peralatan sudah lengkap kami memutuskan untuk packing di rumah Andri, dekat rumah Rossijrx, rumah Andri kosong jadi kami bermalam bersama untuk berangkat pagi-pagi. Ada yang bisa tidur ada yang masih tak sabar untuk segera melakukan perjalanan. Pagi datang, Parhan, Rosiijrx, pulang mengambil motor, saya dan Ugie membereskan yang perlu di bereskan.
Setelah semua siap, kami berangkat naik motor dari Desa Sima sampai basecamp Dipajaya Clakatan membutuhkan waktu sekitar 2 jam kiranya. Tepat pukul 10.00 lebih berapa waktu Indonesia merdeka kami sampai di Basecamp Dipajaya Clakatan. Sedikit berbincang dengan pihak basecamp sedikit santai lumayan perjalanan dengan motor kami memutuskan jam 10.45 kurang atau lebih kami berangkat.
Pendakian Gunung Slamet Via Dipajaya Clakatan.
Berdoa di mulai, Berdoa sampai sekarang karena kita manusia hanya mampu berdoa. Kaki molai melangkah perlahan memasuki kaki gunung dengan santai kami berjalan dengan membawa beban di pundak kita masing-masing. Cuaca sedikit cerah secerah harapan manusia.
Seperti biasa saya di barisan belakang menyangking botol berisi air. Yang ingin minum tinggal bilang saja atau seringkali saya menawarkan minum di saat perjalanan karena kami tak tak ingin istirahat terlalu lama berjalan saja terus walau perlahan pelan-pelan kami melangkah tak akan terasa, apalagi di sambi guyon dan bercerita. Kami berempat saling bergantian membawa tas yang sekiranya berat, sesekali saya selalu menanyakan kepada teman-teman, bagaimana aman? Aman.. Lanjutlah kami melangkah tanpa ada hambatan. Bertemu dengan rombongan 18 orang dari Karawang bersama Porter, kadang sesekali kami mengobrol.
Pos 1 lewat, di pos 2 kami memakan cemilan dan menikmati tembakau di alam bebas. Sungguh nikmat sekali sambil bercerita tak ketinggalan pula kopi join bergantian saling sruput. Ahhh ugigs bersuara.
Jalan selalu mendaki ya namanya saja mendaki gunung ya gitu, pos 3 kami tidak istirahat kami lanjut melangkah karena jam 2 siangan langit mendung terlihat. Kami mendahului rombongan dari Karawang tapi di pertengahan menuju pos 4 kami memutuskan untuk rehat, break sejenak untuk menikmati sesajian yang di selundupkan teman-teman ke dalam tas. Langit bertambah hitam, kabut pun turun kamI bergegas untuk melanjutkan perjalanan menuju pos 4.
Sebenernya kami ingin camp di terakhir pos 5, tapi hujan turun lebih dulu untungnya pas kami sampai di pos 4 yang ada warung-warung tapi tutup warungnya. Kami menghangatkan diri sambil menunggu hujan reda untuk segera mendirikan tenda, karena waktu sudah sore jam 4 lebih atau kurang saya lupa hahahaha..
Kami memutuskan untuk camp di pos 4. Karena tidak ada pembekalan untuk trek malam,kami memilih aman. Hujan sedikit reda bergegaslah kami semua untuk mendirikan tenda di tanah yang sedikit miring. Taraaa jadilah tenda teletubis brakadabraa.. Merebahlah badan-badan yang lelah ini.
Hari semakin gelap tenda-tenda mulai di dirikan dari rombongan yang baru saja sampai di pos 4, ugi sedikit membantu Porter yang membawa terlalu banyak makanan dari rombongan Karawang. Sebungkus rokok di sodorkan Porter untuk kami. Makan dan berbincang suara alam menyelemuti malam itu. Kami memutuskan untuk besok summit sebelum ahirnya kami terlelap satu persatu.
Summit
Jam 4kurang lebih pagi kami siap meninggalkan tenda. Perlahan kami mulai melangkah kan kaki meraba dengan senter flash hp senter yang saya bawa tiba-tiba saja mati. Dengan pelan-pelan kami melewati akar-akar dan jalan yang terjal hingga ahirnya kami sampai di pos 5 bertemu para pendaki yang lain dari jalur Via Bambangan.
Mentari menampakan diri dari ujung timur menyinari seluruh bumi. Melanjutkan perjalanan kami 4 sekawan untuk sampai puncak melihat cuaca dan tenaga kami sangat memungkinkan.
Langkah demi langkah kami melewati bebatuan wadas itu bersama dengan membawa bekal kopi, cemilan dan air untuk sesekali nikmati bersama memandang langit. Hingga ahirnya sampailah kami di puncak gunung slamet. Seperti biasa, kebiasaan saya di puncak adalah hanya terdiam memandangi langit-langit itu. Sementara Ugi, Parhan, Rosijrx berfoto-foto..
Setelah menikmati puncak kami turun melewati jalan yang telah kami lewati. Kembali merapikan tenda membersihkan yang perlu di bersihkan sebelum ahirnya kami pamit untuk turun.
"Bagiku puncak bukan segalanya, perjalanan yang dari rumah sudah saya nikmati. Puncak terbaik bagi ku adalah pulang dan kembali melihat senyum ibu"
Sekian Terima Kasih. Sampai berjumpa di cerita yang lain.

Komentar
Posting Komentar